Beta Relawan, Ale? : Kelas Inspirasi Tanimbar

14 Mei

Beberapa bulan yang lalu, Febri Yudha, salah satu pengajar muda Indonesia Mengajar di Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat mengirimkan pesan ke saya untuk bergabung bersama relawan lain untuk kegiatan Kelas Inspirasi Tanimbar. (Kelas Inspirasi adalah kegiatan relawan mengajar anak2 SD untuk menginspirasi mereka untuk berani bermimpi lebih tinggi dengan memaparkan mereka mendengarkan berbagai profesi kerja). Setelah membuka peta di Google Map, saya menemukan gugusan pulau tersebut di perbatasan laut dengan Australia. Ternyata ibukotanya adalah Saumlaki, kota kecil yang baru saja disinggahi oleh jalur baru Garuda. Ajakan yang sangat menarik, karena selain saya belum pernah ke sana, saya pernah mendengar keindahan gugus pulau Tanimbar.

Rasanya perjalanan lebih seru kalau bisa mengajak beberapa Nutrifood-ers lain. Setelah berhasil mengajak beberapa teman, akhirnya kami pun mengatur jadwal dan mempersiapkan tiket. Teman2 membantu berburu tiket di travel fair, karena tiket sampai Jajakrta-Ambon-Saumlaki ternyata cukup mahal.

Dan akhirnya, tibalah hari perjalanan. Kami sempat menjelajahi Ambon sehari sebelum terbang ke Saumlaki. Di Ambon kami mengunjungi pantai Liang yang airnya cukup jernih. Berperahu agak ke tengah kita bisa melihat coral dari atas perahu. Selain itu, kami juga singgah di salah satu mata air, di mana belut-belut dalam ukuran besar tinggal di sana. Ini pertama kali saya memegang belut dengan ukuran sebesar itu. Tak ketinggalan kami singgah di pantai Natsepa yang terkenal dengan rujaknya.

Esoknya kami terbang ke Saumlaki pagi-pagi. Kotanya sangat sepi dan kecil. Setelah persiapan keberangkatan di salah satu gedung, masing-masing regu berpencar ke SD masing-masing. Saya kebetulan kebagian ke SDN Matakus yang berada di pulau Matakus. Di grup saya, ada Shafira, presenter Net TV, kak Embong, fotografer Antara, dan Pak Gunawan dari TNI-AL, serta beberapa teman lain. Dengan menggunakan kapa TNI-AL kami berangkat menuju Matakus.

Matakus adalah desa kecil yang sangat rapi yang berada di pinggir pantai. Rumah-rumah berjejer di samping jalan-jalan setapak yang rindang. Tidak ada kendaraan di pulau ini. Orang-orangnya sangat ramah. Setelah berramah-tamah dengan para guru dan kepala desa, kami menghabiskan sore itu menikmati matahari terbenam di pinggir pantai. Malamnya, listrik dari genset mulai dinyalakan, Ibu kepala SD bersama para guru menyiapkan makan malam khas Matakus yang luar biasa enak. Akhirnya kami disebar untuk tinggal di beberapa rumah penduduk.

Malam itu hujan sangat lebat. Untung pagi-pagi mulai reda. Jam 7 pagi kami sudah mulai bersiap untuk upacara bendera. Buat saya, upacara bendera di tempat terpencil ini mmeberi makna sendiri. Pembacaan pembukaan UUD45 sangat menggugah ketika sampai di kalimat :”Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan …”. Amanat bapak-bapak bangsa kita adalah membentuk suatu pemerintah yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Mereka yang berada di perbatasan dan terpencil sering terlupakan. Buat kebanyakan dari kita, Indonesia adalah Jakarta, Indonesia adalah Jawa, Indonesia adalah kota-kota yang kita tinggal. Kita sering lupa, pulau-pulau kecil yang namanya terasa asing di telinga, adalah Indonesia juga, adalah tanggung jawab kita juga. Anak-anak di sana berhak menjadi cerdas seperti anak Indonesia di tempat lain. Dan pembacaan pembukaan UUD45 itu seperti menagih bakti kita.

Selesai upacara, mulailah kami masing-masing bertugas mengajar di masing-masing kelas. Karena terbatasnya relawan, kami harus mengisi penuh semua kelas hari itu. Saya mendapat giliran memulai dari kelas 3-4 SD, dst, hingga ditutup di kelas 2 SD siangnya. Saya mengenalkan mereka tentang profesi seorang ahli teknologi pangan. Dibekali dengan beberapa flavor buah yang saya bawa dari Jakarta dan buah-buah yang saya dapatkan di Ambon seperti buah gondangdia (kebetulan lagi musim di ambon, rasanya seperti mangga, enak banget) dan langsat; saya mengenalkan tentang sensory evaluation, tentang cita rasa buah Indonesia, dan tentang pengolahannya. Anak-anak sangat senang, karena bisa belajar sambil bermain dengan mencium bau dan menebak buahnya. Ada pertanyaan yang menarik dari seorang murid, bagaimana caranya biar buah di MAtakus laku dijual? Dia baru kelas 3 SD, saya rasa dia akan jadi seorang marketer atu hari nanti he he. Kelas-kelas hari itu ditutup dengan membuat perahu cita-cita untuk dilayarkan ke laut. Siang itu kami kembali ke Saumlaki, setelah dijamu dengan makanan dari ibu2 PKK. Salah satu menu spesialnya adalah masakan dari jantung pisang yang menyerupai semur ikan?? Menu kebanggaan mereka ini adalah juara 3 lomba PKK tingkat kabupaten.

Setelah acara refleksi, malamnya Bapak Bupati menemui para relawan yang sudah berkumpul. Salut dengan Bapak Bupati Maluku Tenggara Barat ini. Dia begitu peduli dengan pendidikan di sini. Kalau lagi blusukan, dia selalu membawa odol dan sabun, dia ikut memandikan anak2, ikut mengajar. Pernah waktu dia berkunjung ke salah satu SD yang masih banyak murid yang belum bisa baca tulis hitung, dia menanyakan ke guru mengapa bisa seperti itu. Menurut gurunya, anak2 situ bodoh. Bapak bupati tidak percaya, dia sendiri kemudian menghabiskan beberapa jam untuk mengajar. Akhirnya murid-murid itu bisa mengalami kemajuan. Bapak Bupati kembali bertanya ke guru tersebut, jadi sebenarnya siapa yang bodoh. Dia begitu berapi-api bercerita tentang anak2 Maluku Tenggara Barat yang sudah mulai berkuliah, bahkan sekarang ada yang melanjutkan pasca sarjana ke luar negeri. Semoga pendidikan di sini makin maju, dan semoga banyak yang lulus bisa kembali membangun MTB. Selain itu, kami juga disuguhkan tarian daerah dari pulau Selaru, pulau terluar yang berbatasan dengan Australia. Katanya, di malam yang cerah, dari pulau ini bisa melihat kelap-kelip lampu di Darwin, Australia.

Begitulah kisah seru kelas Inspirasi Tanimbar. Besoknya kami melanjutkan perjalanan ke Ambon yang berlanjut ke pantai Ora, the hidden paradise in Maluku.
Untuk foto2nya silakan lihat di Instagram @wumard

Iklan

Kupandang Langit Penuh Bintang

1 Mar

Perjalanan ke gurun Sahara bulan lalu adalah salah satu pengalaman perjalanan yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun hidup di tengah hiruk pikuknya ibu kota menjadikan keheningan satu barang yang sangat langka. Dan, keheningan Sahara menjadi satu kemewahan yang luar biasa.

Perjalanan panjang menuju Merzouga di Maroko yang berbatasan dengan Aljazair rasanya terbayar sudah begitu mobil yang dikendarai berhenti di Yasmina Hotel yang berada di tepi gurun. Unta yang akan dikendarai sudah siap menunggu di halaman belakang hotel. Rasanya was-was juga menaiki unta setinggi itu. Apalagi cara naiknya tidak seperti naik gajah di Laos yang menyediakan bangunan bertangga yang cukup tinggi. Naik unta di sini dimulai dengan posisi unta yang masih jongkok, sehingga masih dalam ketinggian bisa kita jangkau. Setelah siap, pemandunya memberikan tanda ke unta untuk berdiri dan mulailah penjelajahan sore itu di gurun Sahara sambil menikmati terbenamnya matahari.

Sejauh mata memandang, bukit-bukit pasir yang berwarna keemasan tertimpa cahaya matahari sore berjejer seperti lukisan. Bayangan unta yang jatuh di pasir menambah suasana magis di gurun sore itu. Selain itu hanya ada hening, sesekali suara angin menerbangkan pasir dalam irama alam mengiringi matahari yang mulai terbenam. Yang tersisa hanya warna senja langit yang sangat indah.

Setelah sekitar satu jam turun naik bukit-bukit pasir Sahara, sampailah kami di sebuah lembah tempat bermalam. Hanya ada tenda untuk tempat berteduh malam itu dan hamparan karpet mengelilingi tempat yang disiapkan untuk api unggun pengusir dinginnya malam di gurun. Sebelumnya, beberapa mahasiswa Cina yang sedang kuliah di Inggris yang kami temui dalam perjalanan telah memberikan peringatan dinginnya malam di gurun. Begitu matahari menghilang, maka semua kehangatan Sahara akan berbalik menjadi salah satu tempat terdingin. Dengan pakaian yang berlapis-lapis dan beberapa lembar selimut, kami berharap dinginnya gurun tidak akan menjadi masalah.

Bulan yang sudah muncul lebih dulu mulai ditemani bintang yang menampakkan diri satu per satu. Makan malam di bawah langit yang begitu megah terasa sangat mewah. Rasanya waktu berjalan melambat. Tak terasa malam makin larut. Berbaring di samping api unggun sambil menatap langit penuh bintang mengingatkan saya pada kota kelahiran saya. Setiap sore sehabis bekerja, saya akan menyendiri berbaring di atap rumah, belajar sampai cahaya matahari memudar dan bintang-bintang bermunculan.

Di tengah heningnya Sahara yang bertaburkan bintang, rasanya sempurna untuk mendendangkan lagu dari masa kecil ciptaan AT Mahmud.

“Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Berkelap kelip seumpama intan berlian….”

PS: buat yang ingin lihat fotonya silakan cek di Instagram: @wumard

Social Media and Aggressive Behavior: Case Study Analysis on Cyberbullying Among Adolescents

1 Mar

at defickry

Bullying on the InternetRecently, a Canadian online newspaper reported that two brothers have been jailed for 16 months due to the cyberbullying and sexual exploitation of a 14-year old girl[1]. The cyberbullying had a great impact on the girl over a long period of time. After being victimized for 10 months, the girl still feels frightened and demonstrates symptoms of extreme anxiety. Additionally, last year, two American girls were arrested in relation to the death of a 12-year-old girl who committed suicide after being bullied online for months[2]. Those two girls allegedly sent the victim messages on Facebook calling her ugly.

The two cases above are examples of cyberbullying among adolescents. Cyberbullying has been shown to be a serious concern due to the mental distress and psychological harm it causes (Strasburger et al., 2013). As the concern also relates to social media use among adolescents, it is debatable if…

Lihat pos aslinya 3.491 kata lagi

Jokowi’s lost the plot: time to seek professional help

14 Feb

Unspun

Unspun was one of those people rooting for Jokowi when he was contesting against Prabowo in the presidential elections. Not because he was the best of candidates but he was the better candidate in terms of integrity.

That alone held out hope that he might be able to change Indonesia, because for sure a figure like Prabowo that reeks of Order Baru would certainly not.

So when Jokowi got voted in, like many in Indonesia Unspun cheered. Unseen cheered again when he started his administration with fresh faces like Ibu Susi and Jonan. After all, did they not have track records of starting businesses and setting Keretapi Indonesia back on the right track?

And it went well for a little while and Unspun cheered. Then things started to go awry. Jokowi started making funny decisions – the destruction of neighbouring countries’ illegal fishing vessels, imposing the death penalty…and then the KPK-Police…

Lihat pos aslinya 319 kata lagi

#WinterSoldiers

12 Feb

Keinginan untuk mulai menulis di blog sempat tertunda bertahun-tahun karena kesibukan, terutama karena menempuh pendidikan S3. Akhir tahun lalu, gelar doktor sudah diraih. Sekarang rasanya saat yang tepat untuk mulai berbagi pikiran di blog. Saya percaya dengan kekuatan tulisan. Apa yang tertulis akan tertinggal. Apa yang terpikir mungkin menguap hilang bersama waktu.

Tahun 2015 dimulai dengan serangkaian perjalanan yang menyenangkan. Buat yang ingin lihat foto-foto perjalanan tersebut, silakan ikuti di Instagram @wumard. Malam pergantian tahun baru 2015 dilewatin di bekunya malam di lapangan depan City Hall Oslo. Tidak seseru di Jakarta atau kota besar lainnya, hanya sekumpulan (ribuan) orang di lapangan yang menyaksikan kembang api yang samar-samar tertutup kabut pekat. Lonceng pas detik-detik pergantian tahun pun tidak kedengaran jelas. Oslo jelas bukan tempat ideal untuk pergantian  tahun baru, tapi ya sudahlah, karena tujuan berikutnya jauh lebih menyenangkan, Svalbard.

Kepulauan Svalbard terletak di 78 LU, hunian permanen paling utara di dunia yang berada di teritori internasional yang dikelola Norway. Merasakan hari-hari tanpa matahari di Svalbard (tepatnya di Longyearbyen yang berada di pulau Spitsbergen) adalah pengalaman baru yang sangat berkesan. Aktivitas paling berkesan yang saya ikutin di sini adalah ice caving.

Waktu membaca di brosur tentang ice caving yang diberi tanda medium di kolom level of difficulty, saya cukup yakin akan jadi perjalanan hiking santai sebelum masuk ke gua-gua es. Kenyataannya, kita perlu mendaki gunung es hampir 1 jam dengan kemiringan yang terjal. Capeknya luar biasa, tapi puas banget setelah sampai di lubang masuk ke gua es. Mengalahkan ketakutan berada dalam ruang-ruang sempit yang terbentuk oleh aliran es yang mencair pada musim panas dengan dinding yang mungkin runtuh sewaktu-waktu, jadi satu pencapaian besar di awal tahun. Hadiahnya sangat menyenangkan, menyaksikan lapisan-lapisan es dengan lekuk yang indah dan menikmati kesunyian gua es di ujung utara planet bumi. Puas banget!

Hello world!

27 Nov

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.